COBA! CEPAT COBA! (google translate)

Jumat, 20 April 2012

awful days

Gue paling sebel kalo mau mulai cerita. Gimana mulainya? pake apa? ngomong apa? kalimat yang mana? oke. hmm...
Jadi! setiap orang pernah mengalami awful day, what-a-day, bahkan bad hair day (kalo ini biasanya cewek sih). Dan maksud gue semua orang, bener-bener semua orang, termasuk nyokap gue. 
Suatu pagi yang cerah, gue sedang tidur-tiduran dengan bahagia di kamar. Waktu itu lagi libur UN. Aaaah~ bahagia banget tidur sampe siang tanpa harus mikirin bangun buat sekolah. Sedangkan nyokap gue lagi masak di dapur. Tiba-tiba...
"Masya Allah!!" teriak nyokap gue disusul bunyi bak-bok-ckit AAA ngueng ngueng biiib tekotek kotek. 
Gue, sebagai anak pemalas dan batu, tetep leha-leha di kamar, bukannya keluar nyari tau ada apaan. Setelah beberapa saat, kepala nyokap gue nyembul dari pintu kamar. 
"Tadi Ibu masak makroni telor. Pertama, gagang penggorengannya patah, terus telornya tumpah. Abis itu Ibu masak lagi di panci happycall (yg iklannya heboh bgt itu), malah kelupaan terus telornya jadi gosong."
$^#&^%(&*(%%#$#^(??!! itu yang ada di pikiran gue. Tapi karena gue masih berbakti, gue diem aja dan keluar kamar terus duduk deket nyokap gue. 
"Aku gak ngerti, kenapa bisa tumpah di penggorengan pertama? Kan cuma gagangnya yang copot." kata gue sambil ngeliatin nyokap nerusin motongin bawang bombay. 
"Kan ini misalnya penggorengan," tangan nyokap meragain seolah-olah dia megangin penggorengan, "terus mau ibu balik.....blahblahblahblah," gue gak ngerti sama penjelasannya. Gue nanya lagi maksudnya gimana, nyokap ngejelasin lagi, tapi kali ini mukanya rada empet. Mungkin dia mikir kenapa punya anak yang telmi begini.
Sebenernya gue masih gak ngerti, tapi karena ngeliat muka nyokap yang udah gak enak, gue jawab, 
"Oh iya, iya. Aku ngerti." Kadang-kadang berbohong itu lebih baik, Kawan. Daripada nantinya nyokap nampol gue pake penggorengan gara-gara kesel, mending gue bilang gue ngerti.
Terus karena gue ngerasa gak enak dan ikut sedih sama nyokap gue, gue ngambil mangkok, gue isi nasi, saos sambal dan gue potong makroni telor gosongnya. Gue mikir, ah paling masih enak. Bagian gosongnya tinggal dibuang, terus bagian yang gak gosong bisa dimakan. Nyokap seneng, gue jadi anak yang berbakti pagi-pagi.

Tapi itu salah.
Harusnya gue gak ngambil nasi di rice cooker itu pake telor itu.
Itu adalah sebuah kesalahan fatal yang bikin gue gak napsu makan beberapa jam setelah kejadian tersebut. 

Gue coba misahin bagian gosong sama enggaknya. Gak bisa. Akhirnya gue nyerah. Gue mikir, kadang-kadang gue suka bagian gosong kok. Kadang-kadang.
Gue potong makroni telornya ke ukuran yang lebih kecil, gue sendok nasinya, gue masukin ke mulut. Nyam-nyam-nyam.

Hoek. Kamfret. Kamfret to the max. Astaghfirullah.

Makroni telor gosongnya bener-bener......gosong. Hitam, pahit, gak enak. Bener-bener gak enak. Bener-bener inalillahi. Masakan paling gak enak yang pernah dimasak nyokap gue selama gue hidup sampe sekarang.
Terus gue ngerasa ada yang aneh sama nasinya. Dan ternyata benar. 
"Bu, kok nasinya aneh gini ya rasanya?"
................................................
"YA ALLAH! Ibu lupa, tadi mati lampu terus rice cookernya mati! Ibu lupa nyalain lagi! Itu masih setengah beras!"

..............................................................................................................................................

@!#^&*()^$@$^*()&&()&^$@@%$#&^*)*)()()&&%^$##$%$#^%%(()&
Empet. Empet. Empet. 
ASTAGHFIRULLAH ASTAGHFIRULLAH

Pagi-pagi gue udah makan nasi setengah beras dan makroni telur gosong. Pahit dan gak mateng. Ini bener-bener awal yang bagus untuk mengawali hari. ASTAGHFIRULLAH ASTAGHFIRULLAH.
Jadilah pagi itu gue ikutan empet dan gak napsu makan. 

Bener-bener what a day buat gue dan nyokap gue.


Selasa, 28 Februari 2012

penpiksyen

Gue bete. Gue tadi udah nulis tapi tiba-tiba gue memencet suatu icon laknat --yang sampe sekarang gue gak tau apaan-- dan membuat tulisan gue ilang. gue bete. GUE BETE WOY GUE BETE *ngelempar diri sendiri kedalem jamban*

Tapi ternyata setelah gue lihat di Edit Entri, tulisan gue ada disana. Ternyata tulisan gue gak ilang *digebukin*

Tadi gue mau cerita sesuatu lagi...tapi gue lupa. Yaudahlah. Mending lau, L, eloh, Lowh, U, loch, lo lo lo dan lo baca fanfic gue aja. Udah lama gue post di fanfiction.net ^^

Dibawah Mistletoe

Disclaimer: Ibu cantik JK. Rowling

Halo! Ini ff pertama saya hohoho. Maaf kalo gak jelas, jayus, aneh, de el el. Kita harus saling mengajari dan memberi saran kritik, bukan caci maki hehe.
Enjoy read!

Malam itu koridor Hogwarts benar-benar sepi. Harry baru saja selesai berlatih Quiditch. Terbangnya belakangan ini sungguh buruk, sampai-sampai Wood menyuruhnya untuk berlatih sendiri di lapangan. Jam tangan Harry sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia sudah melewati batas jam malam.
"Bisa mati kalau aku bertemu guru, atau yang menyebalkan, Filch. Kalo Dumbledore sih gak apa-apa. Dia kan menyayangiku *-minta ditampol*," kekeh Harry.

Tok Tok Tok, terdengar derap sepatu dibelakang Harry. "Bat!(maksudnya kampret) Itu siapa! Ahelah gimana nih, jubah gaib diatas lagi," umpat Harry.

"Nox." bisik Harry mematikan cahaya dari tongkatnya. Tok Tok Tok. Harry mempercepat jalannya sehening mungkin. Tok Tok Tok. Langkah kaki tersebut terdengar semakin dekat. Tok Tok TOK!
"Sedang apa kau disini, Potter?" bisik sebuah suara di tengkuk Harry. "Dumbledore!" teriak Harry kaget. Tongkatnya terlempar dari tangannya.
"Se-se-Snpae? Ups!" Harry membekap mulutnya. "Maksud saya, Professor Snape? Apa yang kau lakukan disini?"

"Potong tiga puluh angka dari Gryffindor karena melanggar jam malam. Sepuluh angka karena melempar tongkat dengan sangat tidak bertanggung jawab. Sepuluh angka karena memanggil Kepala Sekolah tanpa sebab. Kenapa yang kau panggil bukan ayahmu, Potter? Oh iya dia sudah tiada. Lima puluh anka karena memanggilku tanpa 'Professor'. Dan sepuluh angka karena lancang balik bertanya padaku." Harry mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sayang dia itu guru, kalau bukan Harry pasti sudah menonjoknya, menampolnya, menempelengnya sampai collapse, terus diinjek-injek, dilempar, dijedotin, dimasukin ke lubang jamban, diguyur, Elo Gue End! Tapi kenyataannya Harry hanya melihatnya sambil memendam dendam yang sudah sangat panas membara.

"Lalu, apa yang kau lakukan disini, Mr. Potter?" Snape menekankan kata Mr.

"Saya habis berlatih Qudditch."

"Oh ya? Mana buktinya? Mana sapumu?" tanya Snape lagi.

"Saya tinggalkan di ruang ganti."

"Kenapa?"

'Suka-sukalah! Emang situ siapa? Bener-bener minta dijejelin Myrtle Merana nih orang.' batin Harry jengkel.

"Berat. Lagipula kalau Anda tidak percaya," Harry menunjuk kaos olahraga yang dipakainya, "lihat? Saya pakai baju olahraga. Untuk apa saya berkeliaran di dalam kastil memakai baju olahraga?"

"Untuk membuat alibi, mungkin. Kau meninggalkan sapumu di ruang ganti? Hanya karena berat? Oh, kupikir orang berkepala besar sepertimu tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Mengingat ayahmu yang selalu memamerkan sapu dan snitch yang ditangkapnya sewaktu sekolah dulu." kata Snape dingin.

"Kalau Anda masih juga tidak percaya," Harry memberi tekanan pada kalimat tidak percaya, "silahkan periksa ruang ganti Gryffindor." "Untuk apa? Aku ini kan jago dalam Occlumency. Aku bisa membaca pikiranmu."

'KALO GITU NGAPAIN NANYA, KENTUT? DASAR KADAL RAMBUT KLIMIS!" maki Harry dalam hati.

"Aku tahu apa yang baru saja kau pikirkan." desis Snape berbahaya. Harry menggeram dan semakin mengepalkan tangannya dengan kencang. Kepalanya sekarang sudah siap meledak. Seperti kentut yang ditahan #lupakan lupakan.

"Nah sekarang, sana pergi Potter."

"Selamat malam, Professor." geram Harry. Dia berbalik dan melangkahkan kakinya dan langsung terjungkal ke belakang dan menabrak Snape dan menindih tubuh Snape.

"APA YANG KAU LAKUKAN? CEPAT ENYAH!" teriak Snape murka.

"Sabar Professor! Saya juga tidak tahu kenapa saya bisa terjungkal!" balas Harry.

"Potong sepuluh angka- "

"Anda tidak bisa melakukannya! Itu bukan salah saya! Saya seperti menabrak dinding yang tidak terlihat! BUKAN SALAH SAYA BUKAN SAYA! SAYA JUGA GAK GAK GAK KUAT SAMA PLAYBOY PLAYBOY."

"SAYA TIDAK PEDULI KALAU KAU GAK GAK GAK KUAT SAMA PLEIBOI PLEIBOI! TAPI MANA MUNGKIN BISA ADA DINDING YANG- "
Wajah Snape langsung berubah horror. Dia melihat ke atap diatas. Disana terdapat mistletoe yang menggantung-gantung dengan indahnya. Dia menganga. Harry menganga. Yang nulis menganga. Laptopnya menganga. Modemnya menganga. Semua menganga. Jadi ceritanya selesai sampai disini. (langsung ditimpuk pake idungnya Snape.)

"Mistletoe? KOK BISA? Ini pasti ulah-"

"Duo Weasley." Snape mengakhiri kalimat Harry.

"BAGAIMANA INI PROFESSOR? SAYA JADI TAMBAH CENAT-CENUT KARENA GAK GAK GAK KUAT NGELIAT MUKA PROFESSOR YANG KETELEN IDUNG! Ups! eh sori sori keceplosan.." Harry menundukkan kepalanya.

"Potong dua puluh angka lagi dari Gryffindor." desis Snape dingin.

''Kutil Merlin! (lah emang Merlin punya kutil yak?) Point Gryffindor sekarang berape? Parah sekali sumpah si idung," umpat Harry dalam hati.

"Jaga pikiranmu Potter." desis Snape lagi. Kenapa dia mendesis terus? Karena dia seperti ular. Licin, licik, menakutkan, menyebalkan, berminyak, berambut klimis. Bedanya, Snape beridung ular kagak. Kesian deh lo *di smackdown sama fansnya Snape*.

"Sekarang bagaimana Professor?" tanya Harry.

"Mana tongkatmu? Pinjam."

"Disana." Harry menunjukkan tongkatnya yang terletak sejauh satu meter dari mereka.

"KENAPA TIDAK KAU AMBIL TADI?"

"Kan tadi Professor marahin saya! MANA SEMPET NGAMBIL!"

"Terus? Saya harus bilang WOW gitu?"

"Enggak."

"TERUS KALAU TIDAK ADA TONGKAT BAGAIMANA KITA BISA KELUAR!"

'lah tongkatmu dimane, Pret?' batin Harry.

"Tongkatku tidak ada urusannya denganmu, Potter."

"Kalau begitu kita tidak akan bisa keluar sampai Natal. Atau..."

"Tidak. Tidak mungkin."

'YE KALI YE GUA MAU CIUMAN AMA ELU? NAJIS BANGET!' maki Harry dalam hati.

"Kalau kau tidak tahu Potter. Saya juga NAJIS BANGET." geram Snape.

Mereka terdiam selama beberapa saat. Mereka saling menatap dan melengos. Harry duduk. Snape goyang-goyang karena pegel tapi mau duduk tengsin.

"Kita tidak bisa begini terus. Sekarang masih tanggal 23 Maret. Natal masih lama. Dan kalau sampai ada yang melihat, sungguh memalukan." kata Harry ngeri.

"Ya."

Mereka diam lagi.

"Baiklah. Kau, bangun." perintah Snape pada Harry. Harry merasa ngeri. Dia tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.
Snape memegangi kedua sisi tubuh Harry. Spontan Harry mendorongnya. Mereka berdua terjengkang ke belakang dan terpental lagi ke depan.

"DIAM POTTER! IKUTI SAJA! SAYA JUGA JIJIK!" raung Snape.

Snape memegangi Harry lagi. Kali ini Harry pasrah. Mereka berdua memejamkan mata. Wajah mereka hampir tidak berbatas sampai Harry mendorong Snape (lagi.)

"AKU GAK GAK GAK KUAT! JANGAN REBUT KEPERAWANAN BIBIRKU!"

"KAU PIKIR BIBIRKU SUDAH TIDAK PERAWAN? BIBIRKU JUGA MASIH PERAWAN! DAN SAYA JUGA GAK GAK GAK KUAT GAK GAK GAK LEVEL!"
Harry kaget. Setua itu bibirnya masih perawan? My God. Dia pasti bener-bener gak laku. *yang nulis bingung, kalo keperawanan bibir, buat cowok disebutnya perawan juga bukan ya? karna yang nulis gatau, jadi terimalah dengan ikhlas dan lapang dada O:)*

"Kalau kau tidak bisa dilembuti," Snape mundur sampai hampir mentok dinding mistletoe, "akan kupaksa. HIAAAAAK!" Snape melompat mundur dan dengan otomatis mental dan jatuh menabrak Harry. Bibir merekapun bertemu. Kejadian menjijikkan itu tidak dapat dielakkan lagi. Harry meronta-ronta, tetapi Snape menahannya. Sampai perlahan-lahan mistletoe itu memendek-memendek dan dinding bening itu hilang.

Snape melepaskan Harry. Harry langsung berlari menuju jendela kastil dan muntah disana. Dia berkali-kali mengelap bibirnya. Snape juga mengelap bibirnya. "LAKI BUKAN! GITU AJA MUNTAH! LAKI GAK MUNTAH-MUNTAH!" teriak Snape lalu meninggalkan Harry. Setelah Snape sudah tidak terlihat, Harry meraung,

"LAKI GAK MAKAN LAKI! LAKI GAK NYIUM SESAMA LAKI! LAKI GAK MINUM RASA-RASA!" Harry pun kembali muntah. Sementara Snape di ujung sana yang mendengar raungan Harry langsung bergumam, "Potong lima angka lagi dari Gryffindor."

Beberapa menit kemudian Harry mengambil tongkatnya dan berlari menuju asramanya. Dia tidak ingin ada yang melihatnya seperti ini. Apalagi kalau ada yang melihatnya dengan Snape tadi. Bisa hancur imagenya.

Harry memasuki ruang rekreasi Gryffindor. Disana masih banyak anak-anak berkumpul.

"Harry! Dari mana saja, Kau?" tanya Ron. "LAKI GAK NANYA-NANYA! LAKI GAK GAK GAK KUAT!" teriak Harry. Dia langsung berlari menuju kamarnya dan langsung mencuci muka di kamar mandi.

Ron dan Hermione beserta semua anak yang ada disana langsung bengong.

'Sumpah. Sampe Voldemort punya rambut dan idungpun, aku tak akan pernah menceritakan ini pada siapapun. Awas saja kalau Snape berani bilang pada orang lain. Aku tidak perduli walaupun dia guru. Akan kumantrai habis-habisan." geramnya dalam hati.

*END*

Gimana? Gak gimana-gimana? ah parah banget. gue kan udah susah payah buatnya :'( lebey -___-

Cao!

Today wasn't a fairytale, definitely wasn't

Haloo tebak hasna lagi ngapain. Hasna lagi bosan karena itu Hasna buka blog. Gak kayak biasanya ya, Hasna suka males buka blog soalnya ya karna males.

Sampe-sampe banyak upil berterbangan di blog ini.

Tadi di sekolah kan belajar, tapi belajarnya gak guna gitu. Bukannya gak guna juga sih, tapi gurunya banyak yang gak masuk gitu. Dari 5 pelajaran, gurunya ada 2 yang gak masuk (eh ternyata cuma 2 kirain ada 4 orang wakaka).
Belajar sih gak perlu diceritain, ya gitu. Jangan sok deh lo berasa gak pernah belajar aja. Gue tau lo pinter tapi ya gak usah gitu juga. Kita kan sesama manusia, lo pernah ngerasain kan rasanya sekolah di tempat yang ngebosenin, jadi gak usah sok deh lo (?)


Aduh ini tulisan makin random aja.


Tadi ada kejadian seru. Gak juga sih, tapi karna hari ini membosankan tudemeks jadinya kejadian itu seru. Jadi gini... gue punya temen namanya Ami. Dia bisa membaca kepribadian lewat tulisan tangan kita. Terus tadi pertama (kayaknya) dia baca tulisannya Bryan. Katanya Ami, Bryan itu baik hati, terlalu baik malah, terus apa ya...pokoknya termasuknya bagus-bagus deh. Tapi sayangnya Ami gak bilang Bryan itu suka nraktir, kalo dia bilang kan dia bakal nraktir kita-kita.
Lanjut!
Terus semuanya jadi rame...blablablabla...dan gue dengan seenak jamban nyodorin tulisan gue ke Ami. "Mi! Hasna Mi! Hasna mau!"
Terus Ami jawab, "Yah, tulisannya terlalu dikit! Kurang banyak!"
Gue ambillah buku tulis gue yang tulisannya banyak. Pas gue nengok ke Ami lagi... kampret. Gue diselak sama Zainab.
Singkat kata, Ami selesai membaca tulisannya Zainab. Sekarang giliran gue...eng-ing-eng...
Kata Ami, gue itu : egois, gak gampang marah, punya relasi yang baik sama teman, teliti (yang ini kurang bisa dipercaya) dan...rahasia. Wkwkwk ini urusan pribadi, blog ini belum cukup umur (?)

Terus Ami berpindah ke tempat lain buat membaca tulisan lain. Padahal dia bilang sebelumnya, "Hasna terakhir! Setelah Hasna pada bayar semua! Wkwkwk," tapi karna banyak yang berkicau minta tulisannya dibaca, Ami menyerah. Dia mau membaca lagi dengan gratis.
Waktu dia lagi membaca tulisannya Reski, gue ngegerecokin dia lagi. "Mi, gue orangnya terbuka atau tertutup? Optimis atau pesimis?" Dan setelah ngebacot beberapa saat gue mendapat jawabannya.
"Lo orangnya tertutup. Kadang pesimis kadang optimis." Gut gut. Bokap gue pasti seneng kalo tau gue orangnya tertutup. Pak Budi tidak ingin anaknya mengumbar aurat ~_~
Terus tadi gue sempet baca blognya Cia. Terus gue ngakak gak jelas dikelas gara-gara baca itu -____-
Jadi begitulah. Setelah baca blognya Cia dan diramal Ami, kita ke lab kimia dan ternyata gak jadi praktek karna ada suatu kesalahan yang tidak disengaja. Dan guru kimia itu ngambek lagi untuk yang ke 96864535465799 kalinya. Abis itu kita ke lab TIK dan pulang. Go home go home~

Sebenernya tadi gue mau jenguk Ossi. Tapi gatau jadi atau nggak. Terus katanya eskulnya Ossi mau ngadain kumpul. Jadi gue kira gajadi ._. maaf ya Ossi, belum bisa jenguk. Cepet sembuh ya Ossi, we miss you <3 ({})

Senin, 27 Februari 2012

Kata-kata ngasal yang walaupun grammarnya berantakan mungkin ada benarnya

Let it be. Life doesn’t struck. You do. So just let it be.


Dragonica Emoticon Sparkly Eye